Di tengah hiruk-pikuk kota metropolitan yang nggak pernah tidur, berdiri tegak gedung kaca megah bertuliskan logo emas: PT. Titan Kencana. Di lantai paling atas, seorang pria bernama Raden Hengki Pratama berdiri santai sambil memandang keluar jendela. Di dunia bisnis, orang lebih sering memanggilnya "Hengki Sang Raja".
Hengki ini bukan main-main. Dia nggak cuma jago main saham logam mulia, tapi juga ahli dalam "memainkan" orang. Kompetitor yang berani melawannya? Nasibnya selalu: bangkrut, atau hilang entah ke mana.
Saat itu, dia lagi sibuk ngomong di telepon dengan Adrian, CEO startup teknologi yang baru nemu cara bikin logam alloy efisien bermutu tinggi. Hengki melihat Adrian sebagai "gangguan".
"Kalau dia nggak mau diajak main bagus, ya udah, kita pakai cara yang lebih 'seru'," pikir Hengki sambil tersenyum tipis, memutar pulpen di jarinya.
Di kantornya yang jauh lebih kecil, Adrian grogi melihat email dari Titan Kencana. Dia diajak ketemuan di hotel mewah. Sebenarnya Adrian ogah banget berurusan dengan Hengki yang terkenal sinis itu, tapi tiba-tiba beberapa supplier bahan bakunya pada mundur, katanya karena ditekan oleh Titan Kencana. Adrian jadi nggak punya pilihan lain.
Di hotel, Hengki sudah nunggu sambil menyeruput whisky. Tatapannya dingin.
"Dengar, Adrian," celah Hengki santai tapi menekan. "Ide mu keren, tapi percuma kau tanam di tempat yang salah. Gabung sama aku, dana 200 miliar siap cair, tapi aku mau 70% saham."
Adrian langsung menolak. "Maaf, Pak, ini keringat saya sendiri."
Hengki terkekeh, lalu menghela napas. "Ya sudah, jangan salahkan aku kalau nanti semua yang kamu bangun hancur berantakan."
---
Nggak sampai dua minggu, tiba-tiba pabrik Adrian kebakaran hebat. Kabar resminya sih konsleting, tapi ada pekerja yang ngomong kalau ada orang misterius berbaju hitam seenaknya nyuruh orang lain lari meninggalkan gudang sebelum api menyala.
Adrian hancur. Investor pada kabur, bank nggak mau kasih pinjaman lagi. Di saat dia lagi terpuruk, Hengki datang lagi membawa "bantuan"—syaratnya, Adrian harus menyerahkan patennya.
Dengan berat hati, Adrian menandatangani kontrak itu. Di belakang layar, Hengki cengar-cengir. Rencananya dia mau beli pabrik itu cuma-cuma, terus tutup, lalu jual patennya ke perusahaan asing dengan harga selangit.
Tapi Hengki lupa satu hal: di zaman serba digital ini, rahasia susah disimpan. Mira, seorang jurnalis alumni kampus Adrian, mencium ada yang ganjil. Dia ngumpulin kekuatan, menghubungi Budi, mantan keuangan Titan Kencana yang dipecat karena terlalu jujur.
Budi ngasih data otentik: transferan uang ke rekening politisi, rekaman suara pemerasan, sampai bukti kriminalisasi bisnis lawan. Mira mulai menyebarkannya diantara karyawan.
Dia sebarkan juga ke staf-staf PT.Titan Kencana dengan judul: "Menguak Topeng Raja Bisnis: Korupsi dan Terorisme Industri". Dalam hitungan jam, semua staf dan karyawan terkumpul. Mereka geram, demo besar-besaran.
Melihat suasana sedang panas, Hengki panik. Dia coba perintahkan anak buahnya, Riko, untuk memusnahkan sisa arsip di kantor. Tapi Riko, yang sudah lama tersiksa hati nuraninya, malah membocorkan video CCTV aksi terorisme bisnis Hengki ke grup panitia demo.
Malam itu, gedung Titan Kencana dikepung. Hengki, merasa dunia runtuh, dia kabur lewat terowongan rahasia bawah tanah.
---
Adrian, yang dapat bantuan modal dari investor luar negeri yang kagum dengan integritasnya, bisa membangun kembali pabriknya, bahkan lebih besar. Mira jadi pahlawan yang namanya dikenal, sementara Budi dan Riko dipuji karena keberanian mereka membongkar kebusukan bos mereka.
Hengki tidak diketahui dimana kini berada. Kota itu akhirnya bisa lega, papan reklame yang dulu menayangkan wajah Hengki yang sombong, kini diganti poster-poster startup inovatif.
---
Akhir.

No comments:
Post a Comment