Saturday, March 7, 2026

Lembar Catatan Terakhir

Malam itu berwarna keemasan, cahaya lampu jalan memantul pada trotoar basah setelah hujan gerimis menurunkan sentuhan lembutnya pada kota. Di sebuah kafe kecil yang terletak di sudut Jalan Kemang, aroma kopi dan vanilla mengalir perlahan, menenangkan siapa saja yang melangkah masuk.

Firzi sudah berada di sana, duduk di sudut paling jauh, menatap jendela kaca besar yang menampilkan panorama lampu kota. Di tangannya ada secangkir latte art yang sudah hampir habis, namun tidak mengganggunya. Ia menunggu, bukan karena harus menunggu, melainkan karena menunggu sesuatu yang sederhana: kehadiran Viola.

Viola masuk lewat pintu kaca, rambutnya masih basah menempel pada kepalanya, senyumnya belum sepenuhnya terbentuk, namun ketika matanya bertemu dengan Firzi, ia langsung melunak. “Maaf, aku agak telat,” katanya, sambil menurunkan tasnya di kursi di depannya.

“Tidak apa‑apa,” jawab Firzi, menutup laptopnya dan menaruhnya di samping. “Aku baru saja selesai mengedit video presentasi. Jadi, sekarang waktunya menikmati sore bersama kamu.”

Mereka berdua sudah bersama lebih dari lima tahun. Hubungan mereka bukan tentang drama, melainkan kebersamaan yang terasa seperti aliran air—selalu mengalir, tak pernah memaksa. Setiap momen terasa tepat, setiap kata yang diucapkan selalu terjaga antara kejujuran dan kelembutan.

“Ada yang spesial hari ini?” tanya Viola, melirik kue kecil yang terletak di atas meja.

Firzi tersenyum, memandang kue itu sejenak. “Kalau begitu, mari kita mulai,” kata Firzi, lalu mengangkat gelas smoothie merah muda yang baru dipesan. “Ini untukmu.”

Mereka bersulang, meminunnya dengan perlahan, membiarkan rasa buah segar menyatu dengan percakapan mereka yang mengalir. Topik berpindah dari buku terbaru yang mereka baca, ke rencana liburan ke Jogja, hingga film indie yang mereka tonton minggu lalu.

Setelah Viola selesai menyantap kue, Firzi menyentuh lengannya dengan lembut. “Sekarang, aku ingin kamu menutup matamu.”

Viola menurunkan pandangannya, mengangkat tangan menutup mata, sambil tertawa pelan. Firzi mengeluarkan sesuatu dari dalam tasnya—sebuah kotak cincin kecil.

“Buka saja nanti, setelah kamu merasa siap.” bisik Firzi, suaranya lembut seperti desahan angin.

Viola membuka matanya, menemukan kotak kecil dihadapannya, lalu menatap Firzi dengan tatapan yang memancarkan kehangatan. “Kau memang tahu caranya membuat hari biasa menjadi luar biasa.”

---

Mereka melangkah keluar kafe, menyeberangi trotoar yang kini bersinar seperti permadani cahaya kota. Hujan telah berhenti sepenuhnya, meninggalkan udara yang dingin dan segar. Firzi mengajak Viola duduk di salah satu bangku taman kecil di ujung jalan, di bawah pohon rindang dengan beberapa lampu hias, tempat yang cukup tenang.

Di bawah cahaya temaram, Firzi membuka tasnya dan mengeluarkan kotak cokelat tua. Sebuah buku yang judulnya tertulis dengan huruf timbul: “Masa Depan Kita”.

“Aku ingin kamu membukanya,” kata Firzi pelan.

Viola membuka buku itu pelan‑pelan. Ternyata itu adalah sebuah kompilasi catatan, foto, dan tulisan tangan Firzi selama lima tahun terakhir. Ia menemukan foto-foto mereka di pantai, di sofa, di pasar malam. Di antara foto-foto, ada coretan kecil, kutipan puisi, serta catatan tangan Firzi: “Kamu mengajarku bagaimana mencintai tanpa menahan nafas.”

Lalu, di halaman terakhir, terdapat satu halaman kosong yang diisi dengan satu kalimat: “Untuk tahun berikutnya, mari kita tulis bersama.”

“Setiap halaman ini aku isi dengan momen-momen kecil kita,” ujar Firzi seraya menatap lembut mata Viola yang mulai berkaca-kaca. “Setiap detik bersamamu aku rasa layak untuk diabadikan.”

Matanya berair, namun senyumnya tetap hangat. “Aku tidak butuh kejutan yang mewah. Yang penting, kau selalu ada di sini, menulis kisah ini bersamaku.”

Firzi mengangguk, menempelkan bibirnya pada dahi Viola. “Semua yang kita miliki bukan soal apa yang kita dapatkan, melainkan apa yang kita bagi. Hari ini, aku ingin mengingatkanmu betapa berartinya kamu dalam setiap detik yang sederhana.”

No comments:

Post a Comment

Popular