Di tengah belantara yang diselimuti kabut tipis, tumbuh sekumpulan bunga langka bernama Zephyra. Bunga ini menyerupai matahari senja yang terperangkap di bumi; kelopaknya berwarna ungu keemasan dengan tekstur halus bagaikan sutra. Kaum bijak meyakini Zephyra bukan sekadar tumbuhan, melainkan nafas "Kehidupan Hutan". Dikenal karena kemampuannya meremajakan kulit dan menyembuhkan penyakit mematikan, keberadaannya memicu perdebatan abadi: apakah keajaiban alam seharusnya menjadi hak monopoli segelintir orang, atau anugerah yang harus mengalir untuk kebaikan bersama.
Musim kemarau tahun itu terasa lebih kejam. Tanah retak dan udara kering membawa wabah misterius ke Desa Seri Wangi. Ratusan penduduk terbaring lemah, tubuh mereka mengalami demam sementara kulit mengelupas seperti kulit pohon kering. Di tengah keputusasaan, Pak Jaya, seorang ahli kimia dengan rambut yang sudah beruban, muncul membawa seberkas harapan. Setelah membedah naskah kuno yang rapuh, ia yakin hanya Zephyra yang bisa menjadi penangkal. Namun, takdir bermain curang; percakapan ringannya dengan kepala desa tersedot oleh telinga yang salah. Dewi Ratna, seorang wanita dengan ambisi setajam pisau, mendengar semuanya. Baginya, Zephyra bukanlah kesembuhan, melainkan kunci menuju tahta kekayaan dan kekuasaan.
Tanpa buang waktu, Dewi Ratna menyusup ke hutan, membawa sekop besi dan keserakahan yang pekat. Ia membayangkan ramuan itu dijual dengan harga emas, menjadikan desa itu kerajaan ekonominya. Saat jari-jarinya yang berambisi menyentuh kelopak pertama, angin tiba-tiba berhenti berhembus. Suara lembut namai menusuk, mengalun dari sela-sela pepohonan raksasa, "Bunga ini bukan untuk dirampok, melainkan untuk dibagikan."
Hutan seakan bangkit dari tidurnya. Ranting-ranting pohon menjuntai menutup jalan, dan daun-daun berdesir menandakan amarah. Dari balik tabir bayangan, Lila muncul. Jubahnya terurai, wajahnya penuh wibawa puluhan tahun menjaga tempat suci ini. "Kebaikan alam adalah hak semua orang, Ratna," kata Lila dengan suara yang menggetarkan, "Bukan alat siasat untuk kerakusanmu!"
Matahari terbenam dengan cepat, memanjangkan bayangan di atas rerumputan hutan yang lembab. Udara dingin mulai menyergap, membawa aroma tanah dan daun membusuk. Pak Jaya berlalu tergesa, napasnya memburu. Ia mengacungkan peta kuno yang sudah menguning, matanya liar memandang sekeliling. "Kita harus cepat! Badai akan datang dari arah timur. Jika Dewi Ratna sudah sampai duluan—"
"Sudah terlambat!" seru seorang pemuda sambil menunjuk ke celah pohon dengan jari gemetar.
Di atas bukit kecil yang tertutup semak, siluet Dewi Ratna berdiri angkuh. Sekop besinya berkilauan menyambut sinar sore yang hampir padam. Tiga pengawal berwajah tertutup berdiri di belakangnya seperti patung yang menunggu perintah. "Zephyra adalah milikku!" teriaknya, suaranya menggelegar, bercampur deru angin yang mulai kencang. "Siapa yang berani menghalangi takdirku?"
Lila melangkah keluar dari persembunyian semak belukar. Jubah putihnya berkibar tertiup angin, membuatnya tampak seperti roh penjaga yang marah. "Tidak ada yang bisa mengklaim milik alam, Ratna! Bunga ini tumbuh dari kasih sayang hutan, bukan komoditas untuk dilelang ke tangan tertinggi."
Dewi Ratna, terjebak dalam pusaran ambisi dan amarah, menginjak-injak tanah dengan hak sepatunya. Ia tertawa pendek, sinis. "Kebijaksanaanmu sudah lapuk, Lila! Dunia ini dikuasai oleh kekuatan, bukan oleh ceramah soal kebaikan!"
Ia memberi isyarat. Ketiga pengawalnya maju mendekati rumpun Zephyra yang bercahaya lembut. Tiba-tiba, tanah bergetar hebat. Cahaya keemasan menyembur dari celah-celah akar, seolah darah kehidupan hutan ini terluka. Lila berlari sekuat tenaga, "Jangan!"
Tapi sudah terlambat. Mata sekop Dewi Ratna sudah menusuk tanah, memutus akar utama. Suara erangan kesakitan terdengar—bukan dari mulut manusia, melainkan dari kedalaman bumi itu sendiri. Alam merintih.
Pak Jaya melompat mendekati, wajahnya pucat pasi. "Ratna, kau bodoh!" pekiknya putus asa. "Akarnya adalah jantungnya! Jika kau cabut, ia akan mati. Khasiat penyembuhan itu akan lenyap menjadi debu!"
Dewi Ratna terdiam. Ia menatap bunga di tangannya yang kini bersinar dengan cahaya lemah, berkedip-kedip seperti nyala lilin yang hampir mati. Hujan mulai turun, membasahi wajahnya dan menghapus lapisan riasan tebal yang selama ini menutupi ketakutannya. Saat sebuah kelopak terlepas dan terbang melayang, mendarat lembut di telapak tangannya yang basah, ia merasakan aliran kehangatan. Seburuk apapun niatnya, alam masih memberinya kasih sayang—satu kesempatan terakhir untuk menyadari.
Tangannya gemetar. Sekop itu jatuh dengan suara bernyaring di atas batu. "Ini... ini bukan untukku saja..." suaranya pecah, lirih diterpa hujan.
Zephyra tiba-tiba bersinar lebih terang, seolah merespons keputusannya. Cahaya itu menyejukkan hutan yang panik. "Kita hanya bisa mengambil kelopak yang sudah matang," ujar Lila, suaranya pelan namun tegas, mendekati Dewi Ratna. "Cukup untuk menyembuhkan, tetapi tidak untuk diperjualbelikan."
Dewi Ratna menoleh, airmata dan air hujan bercampur di wajahnya. "Aku akan membantumu mengumpulkannya," bisiknya, menundukkan kepala penuh penyesalan. "Untuk menebus dosaku."
Tidak lama kemudian, penduduk desa berdatangan dengan alat sederhana. Mereka mengumpulkan kelopak yang jatuh dengan penuh rasa syukur, berdoa di bawah guyuran hujan. Ramuan dari kelopak Zephyra berhasil menyembuhkan penduduk desa dengan signifikan. Demam reda, dan kulit yang terluka mulai membaik. Dewi Ratna, kini dengan wajah tanpa riasan dan mata yang jernih, meminta maaf kepada setiap penduduk yang ia lihat.
Sejak saat itu, Desa Seri Wangi menjaga kehormatan hutan dengan ketat. Mereka hanya mengambil bunga Zephyra sesuai kebutuhan—menjadikan bunga itu sebagai pewarna kehidupan dan simbol rasa syukur. Di antara rimbunnya pepohonan, keharmonisan antara alam dan kemanusiaan kini berdampingan, memberi pengingat abadi bahwa kebijaksanaan dan kebaikan harus selalu berjalan beriringan demi kelangsungan hidup bersama.
---
Akhir.

No comments:
Post a Comment