Sunday, March 1, 2026

Cinta yang Tertinggal

Tatkala hujan mulai reda, Dito berjalan menyusuri jalan setapak sambil meraba wajahnya yang sakit. Nafasnya berat, setiap langkah menimbulkan cipratan kecil dari genangan air. Aroma tanah basah bercampur dengan darah di bibirnya, membuat kepalanya semakin pening. Sesampainya di rumah, ia mengompres wajahnya dengan air hangat sambil merebah di lantai. Lantai dingin itu seolah ikut menyerap rasa perih dan getir yang menyesakkan dadanya.

Menjelang malam tiba, ada suara ketuk pintu yang pelan. Dito melangkah ke pintu dengan tertatih, lampu redup berayun karena angin.  

“Leni?” Dito terkejut, kekasihnya datang tak biasa, tanpa kabar.  

“Ada apa kamu ke sini? Dengan siapa?” tanya Dito sambil menoleh-noleh, matanya penuh curiga.  

“Aku kesini karena aku…” suara Leni bergetar, “kita… rahasia hubungan kita terbongkar, orang tuaku tau semuanya!” Air matanya jatuh, tangannya gemetar.  

“Itu wajahmu kenapa?” tanya Leni heran.  

“Aku habis berkelahi dengan orang tak dikenal,” jawab Dito lirih.  

“Duh gawat… orang tuaku memang punya anak buah. Apakah ciri-cirinya seperti ini…?” Leni mencoba menjelaskan, dan ternyata benar, sama persis dengan yang menghajar Dito tadi siang.  

Hening menyelimuti ruangan. Hanya suara hujan yang menetes dari genting, seperti ratapan panjang.  

---

Hari kelam pun datang, ketika acara pernikahan Leni dan Beni yang tak terhindarkan. Leni tertunduk pilu di pelaminan, senyum yang dipaksa, mata yang basah. Gaun putihnya berkilau di bawah cahaya lampu pesta, tapi hatinya hancur. Musik pesta bergema megah, namun bagi Dito di kamarnya, setiap dentum bass adalah pisau yang menusuk. Ia terdiam, air matanya mengalir, tubuhnya gemetar menahan histeria yang tak bisa ia teriakkan. Dengan rasa gundah gulana, Dito memutuskan untuk segera pergi, jauh, entah kemana, membawa apa yang tersisa padanya.

---

Beberapa tahun kemudian, anak-anak Leni sudah tumbuh remaja dan bersekolah di tempat elite. Namun Beni, sang konglomerat, akhirnya terbongkar korupsi dan terlilit hutang. Rumah mewah, mobil, bahkan harta orang tua Leni disita. Mereka berjalan jauh, menelusuri jalan berbatu, tanah berlumpur, hutan basah, di bawah terik panas dan hujan. Aroma lumpur dan dedaunan basah menempel di pakaian mereka. Orang tua Leni menyesal, air mata mereka jatuh menyaksikan anak dan cucu menderita.  

Di penghujung jalan, bunyi klakson keras mengejutkan mereka. Sebuah mobil berhenti.  

“Dito???” seru Leni, matanya melebar.  

Dito turun, wajahnya kini tenang, penuh wibawa. Berkat kerja keras dan doa, ia telah menjadi orang yang diberkahi, dengan usaha yang sukses. Ia mengundang mereka tinggal bersamanya.  

Dalam rumah sederhana itu, orang tua Leni menangis, menceritakan penyesalan mereka. Dengan suara bergetar, mereka menawarkan agar Leni diperistri. Dito terdiam, hatinya berperang antara luka lama dan cinta yang tak pernah padam. Akhirnya ia mengangguk, menerima Leni apa adanya, meski dengan dua anak.  

Mereka hidup dalam kerukunan, namun bayangan masa lalu tetap menghantui. Cinta mereka bersatu, tapi bekas luka tak pernah benar-benar hilang.  

No comments:

Post a Comment

Popular