Di sebuah dapur yang selalu beraroma kayu manis dan asap samar, hiduplah seorang kakek bernama Pak Somad. Baginya, dapur bukan sekadar tempat memasak, melainkan ruang waktu di mana kenangan dihidangkan panas-panas.
Sore itu, di atas meja kayu yang permukaannya sudah halus dimakan usia, Pak Somad meletakkan sepiring jagung bakar. Tidak ada keju yang meleleh, tidak ada saus pedas yang kekinian. Hanya jagung kuning keemasan dengan bercak-bercak hitam bekas panggangan arang yang jujur.
"Sederhana itu kadang lebih sulit dicari daripada yang mewah," gumamnya pada diri sendiri.
Tiba-tiba, cucunya, seorang gadis kecil bernama Lita, masuk dengan wajah cemberut. Ia baru saja kehilangan koneksi internet saat sedang asyik dengan dunianya yang serba digital. Ia melihat piring itu dan bertanya, "Hanya jagung, Kek? Tidak ada topping?"
Pak Somad tersenyum, lalu mematahkan satu tongkol jagung itu menjadi dua. Uap panas mengepul, membawa aroma manis alami yang memenuhi ruangan. "Coba dulu. Ini bukan sekadar jagung. Ini adalah hasil keringat petani yang menanamnya dengan sabar, dan api yang mematangkannya tanpa terburu-buru."
Lita ragu, namun rasa lapar mengalahkannya. Gigitan pertama terasa renyah dan manis. Kehangatannya menjalar, memberikan rasa nyaman yang anehnya tidak pernah ia dapatkan dari aplikasi ponsel manapun. Di dapur yang sunyi itu, tanpa gangguan notifikasi, Lita baru menyadari bahwa manis dan gurihnya jagung bakar serta percakapan kecil dengan kakeknya adalah melodi yang selama ini ia lewatkan.
--
End.
--
Cerita dibuat dengan Gemini,
AI dari Google.
No comments:
Post a Comment