Halaman:

Thursday, March 19, 2026

Janji Setia di Tepian Meguro

Udara Maret di Tokyo masih menyisakan dingin yang menusuk tulang, namun bagi Ardani (Dani) dan Lusiana (Ana), dingin itu justru menjadi alasan untuk saling merapatkan genggaman tangan. Ini adalah perjalanan yang telah mereka rencanakan sejak dua tahun lalu—sebuah janji yang tertunda oleh tumpukan pekerjaan dan rindu yang seringkali hanya tersampaikan lewat layar ponsel di Jakarta.

"Lihat! Itu yang pertama!" seru Ana pelan, menunjuk ke arah dahan pohon yang condong ke arah kanal Sungai Meguro.

Satu pohon Somei Yoshino telah mekar lebih awal dari kawan-kawannya. Kelopak putih pucat dengan semburat merah muda di tengahnya itu tampak kontras dengan langit sore yang mulai memekat. Dani tersenyum, bukan karena bunganya, melainkan karena binar di mata Ana yang jauh lebih indah dari pemandangan bunganya.

"Baru satu pohon, Na. Tunggu sampai kita sampai di area pusatnya," ujar Dani sambil membetulkan syal rajut di leher kekasihnya.

Mereka berjalan pelan menyusuri trotoar Nakameguro. Di sepanjang kanal, lentera-lentera kertas mulai dinyalakan, memantulkan cahaya merah remang-remang di permukaan air. Ribuan pohon sakura berbaris layaknya barisan pengantin, ranting-rantingnya merunduk berat oleh jutaan kuntum bunga yang mekar serentak. Itulah sesungguhnya dari Hanami—merayakan keindahan yang singkat.

"Tahukah kamu?" Ana berbisik saat mereka berhenti di atas jembatan kecil yang menjadi titik foto favorit. "Orang Jepang mencintai sakura karena mereka tahu bunga ini tidak akan bertahan lama. Hanya satu atau dua minggu, lalu gugur."

Dani memandang kelopak-kelopak yang mulai jatuh ditiup angin, seperti hujan salju berwarna merah muda. "Sama seperti kita, ya? Kita menabung rindu berbulan-bulan hanya untuk beberapa hari yang manis di sini."

Ana menoleh, menatap wajah Dani yang kemerahan karena suhu dingin. "Tapi bedanya, sakura akan layu selamanya, sementara rindu kita akan tumbuh lagi."

Dani merogoh saku mantelnya. Ia mengeluarkan sebuah kamera analog tua, hobi yang selalu Ana dukung sejak awal mereka bertemu. Lewat jendela bidik, ia membingkai wajah Ana dengan latar belakang kanopi sakura yang menyatu dengan langit senja.

Klik.

Satu momen abadi dalam selembar film.

"Na," panggil Dani setelah menurunkan kameranya. "Aku tidak ingin hubungan kita seperti sakura yang hanya mekar di musim tertentu. Aku ingin kita seperti dahan-dahannya. Meski musim berganti, meski bunganya gugur dan daunnya menguning, akarnya tetap di sana. Kuat dan tidak berpindah."

Ana tertegun. Di sekeliling mereka, kerumunan orang berlalu-lalang dengan tawa dan botol sake, namun dunianya mendadak sunyi. Ia merasakan sesuatu yang hangat di hatinya, mengalahkan dinginnya angin Maret.

Dani kemudian mengeluarkan sebuah kotak kecil dari sakunya. Bukan sebuah cincin berlian yang megah, melainkan sebuah gelang perak sederhana dengan bandul berbentuk kelopak bunga sakura.

"Ini pengingat," kata Dani sambil melingkarkan gelang itu di pergelangan tangan Ana. "Bahwa di musim semi tahun ini, di bawah langit Tokyo, aku memutuskan bahwa aku ingin melihat semua musim di masa depanku bersamamu."

Air mata Ana hampir jatuh, namun ia menahannya dengan tawa kecil yang bahagia. Ia memeluk Dani erat, menyembunyikan wajahnya di dada pria itu, menghirup aroma kopi dan parfum maskulin yang familiar.

Di atas mereka, angin berembus lagi, menciptakan fenomena Sakura Fubuki—badai kelopak bunga. Ribuan kelopak jatuh melingkupi mereka, seolah alam sedang memberikan restu dalam diam.

Malam itu, di tepi Sungai Meguro, sakura tidak lagi terasa seperti simbol keindahan yang singkat. Bagi Dani dan Ana, malam itu adalah awal dari musim yang tidak akan pernah berakhir.

"Terima kasih sudah membawaku ke sini." bisik Ana.

"Terima kasih sudah menjadi partnerku untuk melangkah sejauh ini, Na."

Mereka kembali berjalan, menyatu dengan kerumunan, meninggalkan jejak kaki di atas hamparan kelopak merah muda yang menutupi jalanan Tokyo, membawa janji yang kuat untuk menyongsong masa depan.

---

No comments:

Post a Comment