Halaman:

Thursday, March 19, 2026

Kedamaian Desa di Pagi Lebaran

Langit Jakarta sore itu terlihat lebih cerah dari biasanya, seolah turut merestui kepergian Via. Di usianya yang baru dua puluh empat tahun, Via adalah gambaran perempuan modern kota metropolitan: kulit sawo matang yang terawat, rambut panjang tergerai, dan tatapan mata yang tajam namun seringkali lelah menatap layar komputer.

Tas ransel besar menggantung di punggungnya, di sisi kiri ada kantung kertas berisi kue nastar pesanan ibu, di sisi kanan tas jinjing berisi baju batik terbaiknya.

"Jakarta, aku pulang dulu," bisiknya dalam hati saat taksi yang ditumpanginya mulai melaju meninggalkan gang sempit di bilangan Tebet.

Perjalanan darat menuju kampung halaman di Jawa Tengah biasanya memakan waktu dua belas jam. Namun, menjelang Lebaran, waktu seolah diregangkan. Bus antar kota yang ia tumpangi bergerak lambat di tengah lautan kendaraan yang memadati tol Cikampek.

Via menyandarkan kepala pada jendela. Ia memejamkan mata, mencoba menghilangkan lelah. Tapi aroma khas di dalam bus—campuran minyak kayu putih, bantal leher, dan bungkusan nasi kotak—justru membangkitkan memori masa kecilnya.

Sepanjang perjalanan, pemandangan berubah. Gedung-gedung pencakar langit perlahan menyusut digantikan hamparan sawah yang menghijau. Via membuka mata lebar-lebar. Ia melihat papan-papan ucapan "Selamat Idul Fitri" terpasang di tiang listrik sepanjang jalan desa.

Tepat saat adzan Subuh berkumandang, busnya tiba di terminal kecil dekat kampungnya. Udara langsung terasa berbeda, dingin dan sejuk.

Via turun dengan langkah gontai. Ia menunggu angkutan desa, tapi yang datang justru sebuah sepeda motor tua yang dikendarai seorang lelaki paruh baya dengan topi keledai di kepala.

"Ndang, Mbak!" sapa lelaki itu.

Via tersenyum lebar. "Pakde!"

Pakde Marwan, paman satu-satunya, menurunkan kaki motor. Ia membantu Via menaikkan tasnya ke depan. Dengan sigap, Via membonceng di belakang, menyampirkan kedua tas di pundaknya.

Perjalanan lima belas menit menuju rumah orang tuanya terasa seperti menelusuri galeri kenangan. Mereka melewati jalan setapak yang dikelilingi pohon jati, lampu-lampu rumah yang menyala kuning hangat, dan suara kidung dari mushola di ujung kampung.

"Masih sakit perutmu, Ndok?" tanya Pakde Marwan tiba-tiba, teriaknya terdengar di atas deru mesin motor.

"Sudah sembuh, Pakde. Alhamdulillah," jawab Via.

"Kemarin ibumu bilang, kamu hampir tak bisa pulang karena sakit."

Via diam sesaat. Ia memang mengalami keracunan makanan dua hari lalu di Jakarta. Tapi rasa rindu pada kampung halaman mengalahkan segala rasa mual dan lelah. Ia tahu, obat terbaik bukanlah obat dokter, melainkan udara kampungnya dan pelukan ibu.

Sesaat lagi sampai, motor melambat. Di kejauhan, terlihat lampu teras rumahnya menyala terang. Di bawahnya, dua sosok berdiri menunggu. Ibu dan Bapak, yang telah menerima pesan singkat dari Via.

Via turun dari motor dengan lincah. Ia berlari kecil menuju teras.

"Ma...!" teriaknya.

Ibunya yang mengenakan daster dan kerudung panjang langsung merentangkan tangan. Via memeluk ibunya dengan erat, mencium aroma khas minyak rambut dan sabun colek yang melekat pada baju ibunya. Bau yang selalu membuatnya merasa aman.

"Alhamdulillah anakku sudah sampai. Sudah makan?" tanya ibunya, suaranya serak tertahan.

"Sudah, Ma. Di bus tadi," jawab Via, matanya mulai basah.

Ia kemudian berbalik memeluk Bapak yang hanya tersenyum simpul di balik kacamata tebalnya. Bapak mengelus kepala Via, tanda sayang yang tak perlu banyak kata.

Pagi itu, mereka duduk berjemaah di ruang tamu kecil yang berlantai ubin. Hidangan sederhana tersaji: ayam goreng, pecel, dan ketupat. Via makan dengan lahap, menikmati masakan ibu yang tak pernah bisa ia temui di restoran mewah Jakarta.

Hari itu Via banyak membantu Ibu membuat kue dan memasak didapur, sambil bercerita pekerjaanya di Jakarta.

---

Esok paginya, ketika mentari baru menyembul di ufuk timur, langit kampung berwarna jingga keemasan. Suara takbir berkumandang dari langit-langit masjid desa, menggema di antara lembah dan sawah.

Via bangun lebih awal. Ia mandi dengan air sumur yang terasa lebih segar daripada air shower di apartemennya. Ia memakai baju batik warna ungu muda pemberian ibu, rambutnya disanggul sederhana.

Saat berjalan kaki menuju masjid, ia merasakan kedamaian yang mendalam. Suara gemerisik daun, kicau burung pagi, dan aroma kembang setaman yang diletakkan di depan rumah warga.

Di masjid, ia berdiri shaf perempuan di belakang. Saat imam memulai takbir, bulu roma Via berdiri. Air mata mengalir tanpa ia sadari. Bukan karena sedih, tapi karena haru. Ia bersyukur masih diberi kesempatan untuk kembali, untuk merasakan pelukan hangat orang tua, dan untuk meminta maaf segala kesalahan di tahun lalu.

Selesai shalat Ied, suasana riuh rendah pecah. Saling bermaaf-maafan. Via berpelukan dengan tetangga-tetangga yang ia kenal sejak kecil. Wajah-wajah dengan senyum tulus menyapanya.

"Ndok, tambah cantik aja di Jakarta," puji Mbak Narmi, tetangga sebelah.

Via tersenyum malu. "Enggak juga, Mbak. Capeknya aja yang nambah."

Tapi di balik lelah itu, ia merasa terisi kembali. Di Jakarta, ia adalah Via yang mandiri dan tangguh. Tapi di sini, di kampung ini, ia kembali menjadi "Ndok", anak kecil yang selalu dirindukan.

Sore hari, saat matahari hampir terbenam dan langit berubah menjadi kemerahan, Via duduk di beranda rumah. Ia menyeruput teh hangat sambil memandang kebun di samping rumah, disana ditanami kemangi, peterseli dan kenikir sayur. Angin berhembus lembut, membawa sejuknya pedesaan.

Ia tahu, besok atau lusa, ia harus kembali ke Jakarta. Tapi untuk saat ini, ia membiarkan dirinya tenggelam dalam kehangatan Lebaran. Di kampung halaman, waktu seolah berhenti sejenak, membiarkan hati yang lelah beristirahat dan menemukan kembali makna pulang.

Via memetik setangkai bunga kenikir tak bermahkota, tersenyum. Di balik suara jangkrik yang mulai bersahutan, ia mendengar panggilan ibu untuk makan malam.

"Ndok... makan!"

"Iya, Ma..." sahutnya lagi.

Ia beranjak masuk, meninggalkan jejak kaki di halaman berdebu, meninggalkan kerinduan di balik pintu, dan membawa kedamaian di dalam dada.

---

Akhit cerita.

No comments:

Post a Comment