Monday, March 30, 2026

Dibalik Kontrasnya Kota

Di jantung kota ini, aspal jalan raya bukan sekadar pemisah jalur kendaraan, melainkan garis khatulistiwa yang membelah dua peradaban yang berbeda seribu tahun.

Yanuar berdiri di trotoar sisi timur, tepat di bawah bayangan raksasa Menara Kaca Gading. Gedung itu adalah mahakarya arsitektur modern; dindingnya terbuat dari kaca antipanas yang memantulkan langit biru dengan begitu sempurna, seolah-olah gedung itu ingin menghapus keberadaan awan yang asli. Di baliknya, orang-orang dengan setelan jas rapi melangkah terburu-buru, menggenggam kopi mahal dalam gelas kertas, sementara udara di sana beraroma parfum mahal dan pendingin ruangan yang dinginnya menusuk tulang.

Namun, hanya dengan menyeberangi jalur busway yang lebar, pemandangan itu runtuh seperti kastel pasir yang dihantam ombak.

Yanuar melangkah menyeberang. Begitu kakinya menyentuh trotoar sisi barat, ia disambut oleh barisan pagar bambu setinggi dua meter. Pagar itu masih baru, disatukan dengan kawat karatan dan dipaku pada tiang-tiang kayu seadanya. Di beberapa bagian, bambunya masih hijau, namun di bagian lain sudah mulai menguning kecokelatan dimakan cuaca.

Pagar bambu ini adalah sebuah tirai panggung. Ia dibangun dengan satu tujuan: menyembunyikan "pemandangan yang tidak sedap" dari mata para penghuni menara kaca dan tamu-tamu hotel berbintang di seberangnya.

Yanuar mendekat ke salah satu celah di antara anyaman bambu tersebut. Dari lubang kecil itu, ia melihat dunia yang coba dihapus oleh kota.

Di balik pagar, tanahnya tak lagi rata oleh aspal atau marmer. Tanah becek bekas hujan semalam terinjak-injak oleh sandal jepit yang sudah tipis. Rumah-rumah di sana dibangun dari tumpukan kayu bekas peti kemas, seng-seng berkarat, dan spanduk kampanye politik yang sudah pudar warnanya. Aroma kopi mahal berganti dengan bau asap kayu bakar dan selokan yang mampet.

Seorang anak kecil, yang kausnya sudah berubah warna dari putih menjadi abu-abu pudar, tampak asyik mengejar seekor ayam di antara jemuran kain yang bergantungan rendah. Anak itu sesekali menoleh ke arah pagar bambu, menatap ke atas, ke arah puncak menara kaca yang berkilau di seberang sana. Baginya, gedung itu mungkin bukan kantor atau pusat bisnis, melainkan sebuah gunung ajaib dari negeri dongeng yang tak akan pernah bisa ia daki.

Kontras ini begitu tajam hingga terasa seperti luka. Di sisi kanan jalan, orang-orang membicarakan investasi kripto dan ekspansi global. Di sisi kiri jalan, di balik pagar bambu, seorang ibu sedang menghitung koin-koin receh untuk memastikan anaknya bisa makan mi instan malam ini.

Yanuar menarik napas panjang. Udara di sini terasa lebih berat, bercampur debu jalanan yang tak tersaring filter udara canggih. Ia menyentuh permukaan pagar bambu yang kasar. Pagar ini bukan hanya pembatas fisik, tapi adalah simbol dari ketidakmampuan kota ini untuk merangkul semua penghuninya.

Tiba-tiba, dari balik pagar, terdengar suara tawa renyah beberapa orang lelaki yang sedang bermain domino. Tawa itu terdengar begitu jujur, begitu keras, hingga menembus celah-celah bambu dan mencapai trotoar yang sunyi.

Yanuar tersenyum getir. Di seberang sana, di dalam gedung yang dingin dan kedap suara, tawa seperti itu jarang terdengar. Semuanya tertutup oleh sopan santun yang dipaksakan dan ego yang setinggi plafon.

Saat Yanuar kembali berjalan menuju halte, ia menoleh ke belakang sekali lagi. Sinar matahari sore memantul dari kaca gedung mewah, lalu jatuh tepat di atas pagar bambu yang kusam itu. Untuk sesaat, pagar bambu itu berkilau keemasan, seolah-olah matahari ingin memberikan keadilan yang sama bagi kedua sisi jalan, tanpa peduli seberapa tebal tembok atau pagar yang dibangun manusia untuk saling memisahkan.

Kota ini tetap bernapas, meskipun separuh paru-parunya berada di balik kaca, dan separuhnya lagi tersembunyi di balik anyaman bambu.

No comments:

Post a Comment

Popular