Namanya Aisyah. Ia tidak pernah meminta cinta yang mewah. Dalam sujudnya, ia hanya berdo'a sederhana,
"Ya Allah, jika Engkau takdirkan aku mencintai, maka pertemukan aku dengan seseorang yang membuatku semakin dekat kepada-Mu."
Di sisi lain kota, Farhan pun sedang berjuang dengan caranya sendiri. Ia belum mengenal Aisyah. Ia hanya tahu, ia ingin memulai rumah tangga suatu hari nanti dengan cara yang benar. Maka ia memperbaiki salatnya, memperbaiki akhlaknya, memperbaiki cara ia mencari rezeki.
Mereka pertama kali bertemu dalam sebuah kajian. Hanya saling tahu nama. Tidak lebih.
Beberapa kali setelah itu, mereka kembali bertemu di tempat yang sama. Tidak pernah berbicara berdua. Hanya sesekali bertukar salam dengan jarak yang terjaga. Tapi entah mengapa, setiap kali Farhan melihat Aisyah berjalan bersama teman-temannya, ia melihat ketenangan. Dan setiap kali Aisyah mendengar Farhan menyampaikan pertanyaan kepada ustadz dengan sopan, ia melihat kesungguhan.
Perasaan itu tumbuh perlahan—bukan karena seringnya berinteraksi, tapi karena diam-diam keduanya memperhatikan akhlak satu sama lain.
Farhan tidak ingin terburu-buru. Ia beristikharah. Berhari-hari. Berkali-kali.
Sementara Aisyah mulai merasa ada sesuatu yang mengusik hatinya. Ia pun melakukan hal yang sama: berdo'a agar jika rasa itu tidak baik, Allah segera menghapusnya.
Beberapa bulan berlalu.
Farhan akhirnya berbicara kepada orang tuanya. Bukan untuk melamar, tapi untuk meminta nasihat. Ia ingin memastikan niatnya benar, bukan sekadar perasaan sesaat.
Setelah merasa mantap, barulah ia meminta perantara untuk menyampaikan niat ta’aruf secara resmi kepada keluarga Aisyah.
Saat pesan itu sampai, Aisyah tidak langsung menjawab. Ia menangis dalam sujudnya malam itu. Bukan karena ragu, tapi karena takut jika ia salah memilih.
Hari-hari ta’aruf pun berjalan dengan sederhana. Pertemuan didampingi keluarga. Pertanyaan yang diajukan bukan tentang hobi atau warna favorit, tapi tentang visi hidup, cara menghadapi masalah, dan bagaimana mereka mendidik anak-anak kelak.
Tidak selalu mudah. Ada perbedaan. Ada diskusi panjang. Bahkan sempat ada keraguan kecil.
Namun setiap kali mereka hampir goyah, mereka kembali pada do'a.
Hingga akhirnya, setelah melalui proses yang matang dan restu kedua keluarga, Farhan datang bukan dengan tergesa, tetapi dengan keyakinan.
“Aku datang bukan hanya untuk mencintaimu,” ucapnya, “tapi untuk belajar mencintaimu karena Allah.”
Dan saat akad itu terucap, yang mereka rasakan bukan ledakan emosi, melainkan ketenangan yang dalam.
Karena cinta yang dijaga dalam do'a, ketika waktunya tiba, tidak terasa tergesa-gesa namun terasa tepat.
---
No comments:
Post a Comment