Malam itu, lampu meja di ruang tamu kecilnya menyorot lembaran kertas putih yang masih tergeletak di atas papan ketik. Sesuai dengan kebiasaan, Danti menatap layar laptopnya berulang‑ulang, memeriksa dan memeriksa lagi setiap kata di dalam surat lamaran kerja. “Semoga ini menjadi pintu pertama menuju perubahan,” gumamnya sambil meneguk kopi yang sudah mulai dingin.
Danti, 28 tahun, tinggal di sebuah apartemen sederhana di pinggiran Jakarta. Sejak lulus S1 Akuntansi, ia bekerja di sebuah toko kelontong keluarga selama dua tahun—cukup untuk menutupi kebutuhan sehari‑hari, namun tidak cukup untuk menyalakan impian yang dulu terbakar: menjadi analis keuangan di perusahaan multinasional. Sejak awal tahun, Danti menyiapkan CV, mengikuti pelatihan daring, dan meneliti setiap lowongan yang cocok dengan keahliannya. Akhirnya, sebuah iklan pekerjaan di PT Sinar Utama—perusahaan yang dikenal memiliki program pengembangan karir yang kuat—menjadi targetnya.