Saturday, March 7, 2026

Ngabuburit di Mall, Cinta di Sudut Foodcourt

Matahari mulai turun perlahan, menebarkan cahaya keemasan yang menembus kaca‑kaca gedung. Aku berdiri di antara deretan kios pakaian, menunggu waktu maghrib sambil menatap jam tangan yang berdetak. Ngabuburit dulu sering kujalani dengan membuat gambar vector, nonton short video, main game atau sekadar mendengarkan musik. Kali ini, cuaca yang hangat dan tidak mendung, aku memutuskan menghabiskan sore di Mall Galaxy—tempat yang biasanya cuma cuci mata atau belanja, kini menjadi arena yang tak terduga.

Aku menelusuri lorong‑lorong yang dipenuhi aroma parfum, baju, dan kopi yang menguar dari kafe‑kafe. Di salah satu sudut foodcourt, seorang gadis duduk sendirian di kursi berwarna biru. Di hadapannya tersedia semangkuk ramen yang masih mengepulkan asap putih, namun ia tak menyentuhnya sedikit pun. Ia duduk diam, sesekali memegang sumpit lalu meletakkannya lagi, menatap mangkuk itu dengan tatapan yang sulit ditebak.

Aku mengambil napas dalam-dalam, memutuskan untuk tidak hanya duduk menunggu. “Mau tambah sambal? Biar nanti pas buka makin semangat,” tanyaku sambil menyodorkan saus pedas di sebelahnya.

Dia menengok, sedikit terkejut, lalu menatapku dengan mata coklat yang bersinar. “Eh, terima kasih,” jawabnya, suara lembutnya berbaur dengan musik latar yang mengalun. “Aku lagi coba tahan godaan ini. Tadi iseng pegang sumpit, takutnya malah kebablasan makan. Kamu jangan goda aku ya.”

Aku tertawa, “Tenang, aku juga lagi puasa. Kita saling jaga. Sumpit itu ibarat hidup—kadang harus bersilang dulu biar dapet, tapi belum waktunya jangan dipaksakan.” Kami berdua tertawa, dan percakapan mengalir begitu saja. Namanya Lila, mahasiswa jurusan desain grafis yang suka menggambar karakter komik di waktu luang. Aku, Riko, jurusan teknik komputer, yang lebih sering ngoding daripada melukis.

Kami mengobrol ringan, menyanggupi godaan aroma kaldu ramen yang semakin tajam di udara. Tak terasa, waktu maghrib tiba. Suasana hening, terdengar suara adzan yang menggema di sudut lantai dua. Barulah setelah suara adzan berkumandang, Lila menyalakan senyum lebar dan langsung menyentuh mangkuk ramen-nya. “Alhamdulillah, akhirnya berbuka,” kata Lila sambil menatapku dengan mata berbinar. Aku mengangguk, merasakan getaran hangat di dada, menghabiskan minuman dan roti yang tadi kubeli.

Setelah sholat di musholla mall, kami memutuskan mengakhiri ngabuburit dengan sesuatu yang lebih seru: arcade. Mall Galaxy punya game arcade yang masih setia, dengan lampu berkelip‑kelip, suara mesin slot, dan aroma popcorn. Kami menantang satu sama lain di Dance Dance Revolution. Lila, meski baru saja kenyang ramen, berhasil menari menuruti lampu panah, membuatku terkekeh.

“Kamu jago bikin komik, tapi di dance…?” tanyaku sambil menepuk bahunya. “Aku? Punya cara khusus: melangkah mengarah ke bintang,” jawabnya sambil menggoda. Kami berdua tertawa terbahak‑bahak, hingga lampu biru di atas kami berkedip—tanda sesi selanjutnya.

Setelah kelelahan menari, kami duduk di pojok kafe yang lebih sepi, menikmati es kopi susu dan potongan kue keju. “Aku senang banget hari ini. Awalnya cuma pengen cari tempat teduh, eh malah dapat teman baru,” katanya sambil menatap cangkirnya.

“Aku juga. Sebenarnya, kalau hujan, mungkin aku masih di rumah nonton series,” balasku. Lila mengangguk, lalu menatapku dengan mata yang lebih serius.

Malam itu, kami melanjutkan petualangan ke cinema 5D—film aksi yang penuh ledakan, getaran kursi, dan semprotan air. Aku memegang tangannya ketika efek air menyentuh wajah kami, dan dia menatapku dengan mata bersinar.

Setelah film selesai, kami berjalan perlahan di area luar mall yang didekorasi dengan lampu gantung berwarna pastel.

Saat kami sampai di halte bus, Lila menatapku lagi. “Malam ini memang seru Riko. Aku nggak nyangka ngabuburit di mall bisa jadi titik awal…,” katanya, suaranya hampir berbisik karena suara klakson bus yang mulai terdengar.

Aku menepuk bahunya, “Kita udah jadian, kan? Jadi, kapan lagi kita ngabisin malam minggu bersama?”

Lila tersenyum lebar, “Mungkin…besok? Atau kapan saja kalau kamu mau ajak aku ke tempat baru lagi.”

Kami berpisah, masing‑masing melangkah ke arah yang berbeda—aku menuju rumah, dia menuju apartemen. Namun di balik langkah itu, ada benang halus yang menautkan dua hati, mengikat kehangatan antara ngabuburit dan cinta pertama.

Dan begitulah, hari itu bukan hanya sekadar menunggu maghrib, melainkan awal dari cerita yang masih terus ditulis.

No comments:

Post a Comment

Popular