Halaman:

Monday, February 16, 2026

Antara Kafe dan Langit Senja

Rara, 17 tahun, selalu menghabiskan sorenya di kafe sudut jalan dengan buku catatan dan headphone-nya. Dia menulis puisi tentang hal-hal sederhana: hujan di jendela, aroma kopi, dan senja yang perlahan menelan kota.

Suatu hari, tempat duduk favoritnya dekat stop kontak dan view ke jalan sudah diduduki seorang pria dengan kemeja lengan panjang yang sedikit kusut. Di depannya ada laptop dan setumpuk buku arsitektur. Rara mendesah pelan, tapi saat dia mencari meja lain, pria itu menoleh dan tersenyum. "Maaf, ini tempat duduk favoritmu, ya? Aku bisa pindah."

Itulah pertemuan pertama dengan Galang, 24 tahun, mahasiswa arsitektur tingkat akhir yang sedang mengerjakan tesis. Mereka mulai berbicara tentang buku, musik, dan bagaimana Galang selalu memperhatikan Rara menulis setiap sore. "Tulisannya selalu intens," katanya suatu kali. "Seperti kamu sedang bercakap-cakap dengan dirimu sendiri."

Pertemanan mereka tumbuh di antara latte dan sketsa bangunan. Galang mengajari Rara melihat keindahan dalam struktur dan garis, sementara Rara membagikan dunia kata-katanya yang penuh perasaan. Namun, di balik itu, Rara mulai merasakan sesuatu yang lebih dari sekadar kekaguman. Dia menulis puisi tentang senyuman yang membuatnya lupa waktu, tentang bahu yang inginnya sandari, tentang tujuh tahun yang tiba-tiba terasa seperti jurang.

Krisis datang ketika Galang lulus dan mendapat tawaran kerja di kota lain. Di kafe yang sama, dengan senja yang sama, Galang berkata, "Aku akan pergi, Ra."

Rara menatapnya lama, lalu membuka buku catatannya. "Aku tahu. Tapi sebelum kamu pergi, boleh aku bacakan sesuatu?" Dia membacakan puisi terakhirnya tentang seorang gadis yang belajar mencintai tanpa meminta, tentang keberanian untuk melepaskan meski hati berteriak lakukan sebaliknya.

Galang terdiam. Lalu, dengan suara lembut dia berkata, "Aku tidak pernah menganggapmu hanya sebagai gadis kecil di kafe, Rara. Tapi kamu masih 17. Duniamu baru dimulai. Aku tidak ingin jadi penghalang."

Mereka berpisah dengan pelukan hangat dan janji untuk tetap berteman. Tahun-tahun berlalu. Rara tumbuh, kuliah, dan menjadi penulis. Suatu hari, di pameran buku pertamanya, seorang pria berdiri di belakang kerumunan, memegang buku puisinya yang pertama. Galang. Matanya masih sama, tapi kini dengan lebih banyak cerita di sudutnya.

"Dulu kamu menulis tentang senja," katanya saat mereka bertemu lagi. "Sekarang, aku ingin bertanya... apakah kamu sudah siap untuk cerita tentang fajar?"

---

End.


--

Cerita dibuat oleh:

Flatai.org

No comments:

Post a Comment